Langsung ke konten utama

Bukan Digital Detox, Yuk Kenali Konsep Digital Minimalism!

  Sampul buku Digital Minimalism oleh Cal Newport (penguinrandomhouse.com) Hai Puan! Pernah gak sih cuma mau buka Instagram lima menit, tapi ternyata satu jam sudah berlalu? Atau Puan tanpa sadar mengecek ponsel setiap kali ada waktu luang? Kebiasaan ini mungkin terasa normal, tetapi bisa membuat kita kehilangan fokus, waktu, bahkan ketenangan.  Digital minimalism merupakan salah satu strategi yang membantu kita untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dan menggunakan teknologi secara lebih sadar. Intinya, kita hanya fokus pada aplikasi atau aktivitas digital yang benar-benar bermanfaat dan sejalan dengan nilai atau tujuan hidup. Sementara itu, hal-hal yang tidak memberi manfaat nyata bisa dikurangi atau bahkan ditinggalkan agar waktu dan perhatian tidak terkuras sia-sia.  Baca juga: Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” Digital minimalism melibatkan peninjauan kembali waktu yang dihabiskan pada perangkat sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pri...

Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga!


Biasanya, kalau bicara soal manajemen waktu, yang terbayang adalah bagaimana caranya menyusun jadwal rapi atau membuat to-do list supaya semua tugas selesai tepat waktu. Namun sebenarnya, yang lebih penting dari waktu itu sendiri adalah energi yang Puan miliki saat mengerjakan sesuatu. 

Setiap orang punya pola energi yang berbeda, ada yang paling produktif di pagi hari, ada yang justru semangatnya meledak di malam hari. Kalau Puan bisa memahami kapan energi sedang penuh dan kapan mulai menurun, Puan bisa mengatur aktivitas sesuai kondisi itu agar hasilnya maksimal dan tidak membuat stres. 

Kenapa energi penting? Karena bekerja disaat capek dan pikiran tidak fokus justru membuat waktu terbuang sia-sia. Bayangkan Puan sedang mengantuk tapi memaksakan diri mengerjakan tugas berat, hasilnya justru lama selesai dan kualitasnya menurun. Sebaliknya, jika Puan bekerja saat energi sedang tinggi, meski waktunya singkat, hasilnya bisa jauh lebih optimal. Jadi, manajemen waktu terbaik sebenarnya adalah manajemen energi. 

Tips Manajemen Waktu Berbasis Energi untuk Puan: 

1. Kenali Ritme Energi Harian Puan: Catat kapan Puan merasa paling fokus dan penuh semangat. Gunakan waktu tersebut untuk tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. 

2. Bagi Tugas Sesuai Level Energi: Kerjakan pekerjaan berat saat energi penuh, dan simpan tugas ringan saat energi mulai menurun, seperti membalas email atau rapat santai. 

3. Manfaatkan Waktu Singkat untuk Recharge: Misalnya saat antre atau perjalanan, Puan bisa mendengarkan podcast, latihan pernapasan, atau sekadar istirahat sejenak. 

4. Istirahat dengan Berkualitas: Jangan anggap rehat sebagai waktu terbuang, karena istirahat yang cukup menjaga fokus dan stamina Puan. 

5. Jangan Paksakan Diri: Fleksibilitas itu kunci. Jika Puan merasa lelah, beri ruang untuk istirahat daripada memaksakan diri yang justru membuat produktivitas menurun. 

6. Gunakan Alat Bantu yang Sesuai: Aplikasi atau jurnal yang membantu mencatat energi dan tugas bisa jadi alat ampuh untuk memaksimalkan waktu dan tenaga. 

Selain itu, penting bagi Puan untuk mengubah mindset soal waktu itu sendiri. Waktu tidak selalu harus diisi dengan kerja nonstop agar terlihat produktif. Kadang, memberi jeda pada diri sendiri seperti berjalan-jalan sebentar atau meditasi justru meningkatkan kreativitas dan kemampuan problem solving. Jadi, manajemen waktu yang sesungguhnya adalah mengelola kapan dan bagaimana Puan memakai energi supaya bukan hanya kerja selesai, tapi juga badan dan pikiran tetap sehat dan bahagia.

Jika Puan mulai menerapkan manajemen waktu berbasis energi ini, Puan akan sadar bahwa bukan jam yang jadi musuh atau sahabat, tapi bagaimana Puan memperlakukan energi di balik jam tersebut. Produktivitas jadi lebih natural dan tidak membuat Puan merasa kelelahan atau burnout. Jadi, yuk mulai dengarkan tubuh dan pikiran Puan, atur waktu dan energi, bukan cuma mengatur jam!


Referensi:




Author & Editor: Irda Adelina D 


Komentar

Rubik Puan Popular

Belanja karena Memang Butuh, atau Cuma Lagi Healing? Sebuah Perspektif tentang Emotional Spending

Puan, pernah dengar kalimat ini? " Most people don't have a money problem, they have an emotional problem. " Sekilas, kalimat ini memang terdengar terlalu menyederhanakan masalah keuangan. Soalnya, kita nggak bisa menutup mata kalau banyak dari Puan memang lagi berjuang menghadapi biaya hidup yang makin naik, gaji yang pas-pasan, sampai kondisi ekonomi yang lagi nggak mudah. Namun... setelah dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga. Kadang yang Puan beli bukan barangnya Coba deh, Puan ingat-ingat. Pernah nggak Puan lagi stres terus tiba-tiba buka Online Shop ? Pernah nggak Puan menjalani hari yang melelahkan, Puan langsung pesan makanan favorit sambil bilang, "Nggak apa-apa deh, self reward ." Berapa kali Puan checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhin, cuma karena pengen mood balik lagi? Kalau pernah, tenang. Puan nggak sendirian. Kadang yang Puan beli bukan barangnya, tetapi Puan lagi membeli rasa lega, rasa nyaman, rasa senang, bahkan...

The Worst Thing about Empathy is Losing Self-respect

Ilustrasi seseorang berempati dengan sesama. “When Im mad from my perspective but I can also see their perspective, so now Im carrying double emotional weight and being eaten away by my anger and empathy” Adakah Puan yang pernah merasa marah akan suatu keadaan, tetapi mencoba untuk mencari alasan lain untuk memahami permasalahan tersebut? Kalimat di atas adalah kalimat yang dapat menggambarkan situasi yang Puan alami.  Empathy Without Boundaries is a Self-destruction Empati adalah sikap memahami seseorang baik secara emosional maupun kondisional. Berempati kepada seseorang memang hal yang baik karena dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan. Namun, bagaimana jika berempati tidak memiliki batasan? Jika berempati secara berlebihan, Puan akan terus mencoba untuk memahami dan menyenangkan orang lain tanpa peduli apa yang sebenarnya Puan inginkan. Lama-lama, Puan akan mulai kehilangan kemampuan untuk berempati kepada diri sendiri. Tindakan mengabaikan kebutuhan emosional Puan sendiri ...

Bicara pada Diri Sendiri: Bermanfaat atau Berbahaya?

  Photo by Tara Winstead Tanpa sadar, kita terkadang mendapati diri sedang berbicara sendirian. Pernah tiba-tiba bergumam, "Oke, waktunya kita makan," atau bertanya seolah ada orang lain di dalam diri kita, "Eh, ini lokasinya benar gak, ya?" Entah itu bergumam saat kebingungan, memberikan motivasi saat kesulitan, atau menyuarakan isi pikiran seperti sedang berada di acara podcast , semua itu sangat wajar dan normal . Berbicara pada diri sendiri bisa menjadi alat komunikasi internal yang kuat. Kebiasaan ini juga dikenal dengan istilah self-talk dalam psikologi. Menariknya, seiring bertambah dewasa, frekuensi berbicara pada diri sendiri cenderung berkurang, tidak seintens saat kita masih kecil. Apa itu self-talk? Self-talk atau bicara sendirian adalah cara kita berkomunikasi pada diri sendiri, baik itu dalam hati atau diucapkan dengan keras. Kebiasaan ini punya pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak. Oleh karena itu, penting sekali untu...

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com) Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP. Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar.  Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing , yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung. Apa Itu Phubbing? Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat . Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosia...

Kenapa Kita Sering Bertindak Tanpa Berpikir Panjang? Yuk Kenalan Sama Perilaku Impulsif!

  Image by:  Headspace.com Puan pernah nggak sih tiba-tiba beli sesuatu yang sebenernya nggak butuh-butuh amat cuma karena lagi diskon? Atau mungkin langsung nge-reply chat dengan emosi tanpa mikir dulu bakal nyakitin orang atau nggak? Nah, perilaku kayak gini namanya impulsif. Meskipun kadang terlihat spontan dan fun , kalau terlalu sering, impulsif bisa bikin hidup kita berantakan, dari keuangan sampai hubungan dengan orang lain. Baca Juga:  Why Feeling Lost Can Be Part of Finding Yourself Apa Itu Perilaku Impulsif? Menurut Verywell Mind, impulsivitas atau perilaku impulsif didefinisikan secara luas sebagai tindakan tanpa perencanaan yang kurang dipikirkan matang, diekspresikan secara prematur, terlalu berisiko, dan tidak sesuai dengan situasinya. Perilaku impulsif ini dikaitkan dengan hasil yang tidak diinginkan, bukan yang diharapkan. Jadi orang yang impulsif ini sering bertindak berdasarkan keinginan atau emosi sesaat, tanpa jeda untuk mikir konsekuensinya. Kenapa O...